Hai aku Valerie Zahra, senang di panggil Ale. Di ambil dari bahasa prancis "valerie" artinya putri dan "zahra" di ambil dari bahasa arab yang artinya bunga. Jadi aku ini adalah putri bunganya mama papa. Sekarang aku bersekolah di salah satu SMA Swasta. Awalnya niatku ingin melanjutkan ke SMA Negeri, namun karena mama memintaku agar tetap di swasta akhirnya aku memutuskan untuk menuruti permintaan mama. Aku tidak terlalu cantik, biasa saja. Tapi sejak kecil mama selalu mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang paling cantik dan aku adalah putri impian mama. Memang, dulu mama sangat sulit untuk mendapatkan keturunan. Setelah usia perkawinan mama dan papa menginjak 5 tahun, barulah dokter menyatakan bahwa mama mengandung. Dulu, mama sempat putus asa. Bahkan ia sempat berfikir untuk mengikhlaskan papa menikah dengan wanita lain agar bisa memiliki keturunan. Sebelum mengandungku mama telah mengalami berkali kali keguguran dan hebatnya dulu mama juga hampir mengalami keguguran saat mengandungku. Tak bisa terbayangkan kalau aku di lahirkan dikeluarga lain dan tidak bertemu dengan mama dan papa yang menyayangiku kini. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka.
Nah, ini adalah ceritaku tentang sekolahku yang baru. Yang terasa asing bagiku. Sekolah ini tampak sangat luas dan aku sempat berfikir akan tersesat. Aku berdiri dengan bodohnya di depan gerbang sekolah dengan masih mengenakan baju SMP ku dulu dan menyandang sebuah ransel yang isinya hanya termos minumku. Tiba - tiba suara klakson mobil mengagetkanku. "Tiiiiiit!" akupun langsung melompat ke sebelah kiri dan berteriak "Sialan!". ''Pagi pagi aja uda buat orang kesel, jangan sampe badmood jangan sampe badmood", aku ngedumel sendiri.
Sampainya di lapangan sekolah aku tak tahu harus pergi kemana. Wajah - wajah junior sama sekali tak tampak di pandanganku. "Apa aku salah sekolah?", aku bertanya dalam hati. Dan tanpa ku duga sebuah suara perempuan meneriaki ku, "Hei kamu yang disana, para junior uda pada ngumpul tuh di lapangan belakang! Lelet banget!". Perempuan itu langsung pergi. Aku terdiam sebentar dan membathin, " Tadi itu kalimat apa ya. Kok ga kayak ajakan, atau mungkin kalimat perintah atau mungkin...". Punggung perempuan itu mulai menjauh, langsung saja aku mengekori nya.
Ternyata perempuan itu menghantarkan aku ke sebuah tempat. Dan tempat itu adalah sebuah lapangan yang amat besar di belakang sekolah.
Semua junior telah berkumpul dan jongkok bersama. Para senior tampak sangar bak harimau yang akan menerkam mangsanya, menyeramkan. Bahkan senior ku yang dulunya satu SMP denganku juga terlihat sangat menyeramkan. Seorang senior perempuan berjilbab datang menghampiriku dan bertanya, "Kok kau telat dek?". "E, tadi macet kak dijalan.", jawabku dengan nada pelan dan menunduk. "Alasan!",tangkisnya. "Yaudah, sekarang lari 5 kali lapangan ya!" , lanjutnya. Dan akupun hanya bisa mengangguk.
Sabtu malam lalu aku bersama teman temanku Riota dan Alika menginap dirumahku, kami bertiga membincangkan 1 topik yang sama yaitu, 'Apa yang Harus Junior Lakukan pada Saat Pertama Kali Masuk'. Kami berdiskusi dari jam 8 hingga 10 malam. Dan pada intinya, pada pertama kali masuk sekolah junior harus bersikap tunduk, patuh, sopan, baik, dan murah senyum. Maka dari itu, disaat seniorku memerintahkan untuk lari 5 kali mengelilingi lapangan aku hanya bisa mengangguk.
Tiba - tiba seorang senior laki-laki datang menghampiriku, wajahnya tidak terlihat lebih menyeramkan dari senior lainnya namun tetap terkesan tegas. Ia menanyakan siapa namaku dan alasan mengapa aku terlambat. Aku tetap menjawab dengan jawaban yang sama seperti kepada senior sebelumnya. Lalu ada seorang laki-laki yang juga junoir sepertiku datang lebih terlambat sambil berlari lari. Dan kami dihukum untuk scot jump 10 kali. Kakak itu berkata agar kami memulai scot jump saat ia menghitung sampai tiga. Namun temanku yang disamping ini terlihat sangat bersemangat dan memulai lebih awal. Kakak itupun marah dan menyuruhnya untuk mengulangi. Aku yang melihatnya hanya bisa menahan tawa. Setelah selesai scot jump, aku disuruh untuk bergabung dibarisan.
***
Seminggu kemudian aku sudah mulai untuk belajar dikelas baruku. Disana aku bertemu dengan wajah wajah yang baru. Kesan pertama saat aku duduk di kelas ini ya tentu saja asing. Tapi aku akan mencoba untuk beradaptasi hingga tidak merasa asing lagi.
Kemudian di esok harinya, ada seorang anak laki-laki yang duduk di sebelahku. Aku belum mengenal ia sepenuhnya, aku hanya mengetahui siapa namanya pada saat perkenalan di hari pertama sekolah, namanya Reza. Ternyata setelah aku ingat ingat, laki- laki ini adalah teman satu perhukumanku di lapangan belakang.
Pelajaranpun dimulai, aku hanya diam dan sibuk memperhatikan pelajaran. Tetapi Reza, dia sangat bising sekali bagiku. Aku hanya bisa menghela nafas untuk bersabar.
Setelah berhari - hari kami menjadi dekat. Bukan layaknya pasangan kekasih, tapi layaknya sahabat. Setiap aku tak mengerti tentang pelajaran dia selalu membantuku malah mengajariku. Kami sering melakukan berbagai kegiatan bersama. Dimulai dari kerja kelompok, makan di kantin, dan jalan jalan bersama. Aku menyayangi Reza seperti abangku sendiri. Aku sayang Reza.
Di bulan Agustusnya, aku berkenalan dengan seorang siswa dari salah satu SMA Negeri di kotaku lewat twitter. Awalnya aku hanya iseng men-retweet mentionnya. Tapi lama kelamaan menurutku dia asik dan bisa dijadikan teman.

cerita yang menyedihkan dan mengharukan..
BalasHapussabar ea putt..